berlian

berlian
hiajber

Minggu, 29 Januari 2012

Semua tentang mangga


Botani Kayu Mangga

Tanaman mangga (Mangifera indica L) merupakan salah satu tanaman buahan-buahan yang telah banyak dikenal di Indonesia, dari ujung barat sampai timur dari utara sampai selatan kita jumpai tanaman mangga dari jenis yang bermutu rendah samapai bermutu tinggi. Tanaman mangga menyebar di Indonesia dan disekitarnya mungkin karena dibawa orang-orang India pada waktu mengadakan perdagangan atau pada waktu menyebarkan agama Hindu dan Budha pada abad ke-4 atau ke-5 sebelum Masehi. Mangga mulai ditanam di Kepulauan Maluku pada tahun 1665 (Pracaya, 1996).


Tanaman mangga pohonnya tegak, bercabang dan warnanya selalu hijau, tingginya bisa mencapai 10-40 m, tajuknya berbentuk kubah, bulat panjang (oval) atau memanjang, umurnya bisa mencapai 100 tahun atau lebih. Kulit pohon tebal dan kasar dengan celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna kulit yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Pohon mangga yang berasal dari biji pada umumnya tegak, kuat, dan tinggi, sedangkan yang berasal dari okulasi dan cangkokan lebih pendek dan cabangnya membentang atau melebar ke samping (Pracaya, 1996).

Mangga merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di sekitar lingkungan masyarakat dan di daerah tropik dengan ketinggian antara 0-1300 m dpl dan ketinggian tempat yang optimum untuk mangga adalah 0-500 m dpl, bahkan ada yang menyatakan pertumbuhan mangga juga dapat hidup baik di dataran rendah ataupun tinggi dengan temperatur tinggi atau rendah, sedikit hujan atau banyak hujan. Untuk mendapat produksi tinggi maka diperlukan temperatur dan curah hujan yang tertentu. Menurut pengamatan temperatur minimum tanaman mangga masih dapat hidup yaitu lebih kurang 100 C dan temperatur pertumbuhan optimum untuk tanaman mangga lebih kurang 24-270 C (Pracaya, 1996).

Menurut Paimin (1999), secara umum mangga akan tumbuh dengan baik jika mendapatkan curah hujan tahunan antara 750-2500 mm dengan 2-7 bulan basah dan kedalaman air tanah tidak lebih dari 2 meter. Menurut Rukaman (2003), tanaman mangga tumbuh dengan baik di tanah ringan (tanah lempung berpasir) sampai tanah berat (tanah lempung atau tanah liat). Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, dan pH optimum antara 5,5-6,0.

Ciri Umum, Sifat Anatomin dan Berat Jenis Kayu Mangga

Kayu teras dan gubal pada pohon muda sukar untuk dibedakan, pada pohon tua warna teras merah sampai kecoklatan, tekstur agak kasar sampai kasar (Piki, 1995). Kulit pohon yang tebal dan kasar dengan celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna kulit yang sudah tua sampai hampir hitam dan warna kayunya kuning sampai kemerahan bila sudah kering (Pracaya, 1996).

Kayu mangga memiliki pori-pori tata baur dengan diameter > 10 mikron, batas lingkar tumbuh tidak jelas, memiliki bidang perforasi sederhana. Parenkim aksial aliform, bentuk pita setebal lebih dari lapisan sel dan pita marginal. Lebar jari-jari 1 – 3 set, tidak ditemukan tilosis dan serat-serat berdinding tipis sampai tebal (Mandang, 2005). Menurut Pika (1995), berat jenis kayu mangga adalah 0,67 dan termasuk ke dalam kelas sedang (agak berat), karena berat jenis 0,60 - 0,75 adalah termasuk ke dalam kelas sedang (agak berat).



Sifat Mekanis Kayu Mangga
Tabel 1. Sifat Mekanis Kayu Mangga
Sifat Mekanis
Kondisi Basah
Kondisi
Kering
Keteguhan lentur statis pada batas proporsi (Kg/cm2)
227,08
394,40
Keteguhan lentur statis pada batas patah (Kg/cm2)
365,62
512,31
Modulus elastistas (1000 Kg/cm2)
  74,27
108,42
Keteguhan pukul radial (Kg/cm3)
    5,94
11,85
Keteguhan pukul tangensial (Kg/cm3)
    6,88
-
Keteguhan tekan sejajar serat (Kg/cm3)
306,25
560,51
Keteguhan tekan tegak lurus serat ujung (Kg/cm3)
276,90
485,80
Keteguhan tekan tegak lurus serat sisi (Kg/cm3)
182,50
332,90
Keteguhan geser radial (Kg/cm2)
   71,74
98,29
Keteguhan geser tangensial (Kg/cm2)
   70,11
103,25
Keteguhan belah radial (Kg/cm)
    38,64
34,79
Keteguhan belah tangensial (Kg/cm)
    50,06
43,99
Keteguhan tarik tegal kurus serat radial (Kg/cm2)
    23,14
29,85
Keteguhan tarik tegal kurus serat tangensial (Kg/cm2)
     37,45
43,33
Sumber : Abdurrohim et al, 2004

Pengerjaan Kayu

Pengerjaan kayu sering disebut dengan wood working. Tujuan dari proses pengerjaan yaitu mengkonversi kayu solid maupun panel kayu menjadi produk berdaya guna, bernilai dan berestetika tinggi lewat serangkaian proses . Kualitas barang yang dibuat dari kayu seperti meubel, peralatan rumah tangga dan barang kerajinan tergantung kepada hasil pengerjaan kayu. Sifat pengerjaan kayu dinyatakan secara kualitatif seperti mudah, sulit, baik, kusam, mengkilap dan sebagainya (Martawijaya et al, 1981).

Referensi Bacaan:

Abdurrohim, S., Y.I Mandang dan U. Sutisna. 2004. Atlas Kayu Indonesia. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Jilid III.
Mandang, Y. I. 2005. Kunci Identifikasi Kayu Asia Tenggara. Versi 2.2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.
Martawijaya, A.I. Kartasujana, K. Kadir dan S.A Prawira. 1981. Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.
Paimin, F.R. 1999. Bertanam Mangga Ala Petani Thailand. Penebar Swadaya. Jakarta
Pika. 1995. Mengenal Sifat-Sifat Kayu Indonesia dan Penggunaannya. Kanisius. Yogyakarta
Pracaya.1996. Bertanam Mangga. Penebar Swadaya. Jakarta
Rukmana, R. 2003. Budidaya dan Pascapanen Mangga. Kanisius. Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes